Rindu Keluarga Tercinta

Hari itu terbangun dari mimpi yang tak pernah terduga sebelumnya, hati berkecamuk rasa rindu semakin tumbuh. Tapi entah apa yang mempengaruhinya sehingga masi jam 1 pagi begini saya sudah bangun. Tidak seperti biasanya, yang kalau bangun selalu diatas jam 8 pagi.
Ketika itu saya mulai duduk memojok, pikiran ini terasa seperti di tekan dengan beban yang bgitu besar. Setelah beberapa saat saya mulai mencoba memahami apa isi pikiran ini, ternyata saya sangat merindukan keluarga yangpenuh dengan kedamain dan suka cita. Saya merindukan ayah, ibu, serta kakak, adik saya yang di sebrang sana. Air mata berlinang seperti tak bisa di bendung dengan kekuatan apa pun.


Lama kelamaan sinar mentari pagi mulai kelihatan, tapi saya masih belum bisa tidur juga. Saya mulai coba untuk memanjatkan doa kepada sang penguasa gar dia memberikan perlindungan kepada keluarga yang saya cintai. Setelah selesai memanjatkan doa saya pun mencoba untuk tidur kembali, dan akhirnya hari itu saya bisa tidur kembali dan bangun di jam 9 pagi.
Saat bagun yang kedua kalinya dari tidur yang begitu singkat. Saya coba duduk dan merenung kembali apa yang terjadi pagi tadi. Mualai saya buka perlahan HP saya dan memulai memiscall keluarga saya yang jauh di sana, dan hanya sekedar mengetahui kabar dari mereka. Telvon ku tak diangkat juga, mungkin mereka lagi sibuk dengan kegiatan pagi.
Kegiatan pagi yang biasa keluarga saya lakukan, mempersiapkan diri untuk berngakat ke sekolah masing-masing, jadi berebut deh kamar mandi yang hanya satu saja.

Kembali lagi ke pokok permasalahannya, waktu itu saya coba menyiapkan diri untuk masuk ke kantor. Ya.. maklum saja saya kuliah sambil kerja di salah satu perusahaan swasta, yang cukup terkenal di Indonesia. Pada saat saya di tempat kerja tepatnya di ruangan saya, pikiran ini mulai kacau lagi, dan segala konsentrasi pun hilang. Ternyata saya masih memikirkan keluarga saya yang jauh di sana. Saya mulai coba untuk menelpon mereka, tapi panggilan saya tidak ada yang mengangkatnya. Tarpaksa saya melanjutkan kerja walu kosentrasi saya agak buyar.

Beberapa saat kemudia telvon saya berbunyi, “tringgg,,,,,,” saya cepat-cepat mengangkatnya. Dan ternyata itu telvon  dari ayah saya. “Amin...akhirnya mereka telvon juga.
Ayah : “Bagaimana dari tadi kau telvon...?”
Saya : “tidak, saya hanya mau tanya mereka bapak sehat-sehat ko?
Ayah : “ia kami disini sehat semua la” di tambah dengan kata-kata khas orang bajawa.

Setelah mendengar kalimat itu saya merasa legah dan seolah bersemangat kembali untuk bekerja. Karena semua yang saya kerjakan hanya semata-mata mebahagiakan kedua orang tua saya. Membuat mereka selalu tersenyum, ketika melihat saya menghampiri mereka. Dan apa gunanya kalau kita bekerja tapi keluarga kita di sana sangat sedih sekali, bahkan tak mau menginginkan kita datang ke pada mereka lagi.
Hari itu kegiatan saya mulai berjalan seperti hari-hari biasanya. Melakukan segalanya dengan baik dan tidak mengecewakan teman-teman lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Kantor Waktu Itu

Masa Masa Kenangan

zAo Aplikasi Logo-JNE Kupang